Rabu, 14 September 2011

Penciptaan Manusia Menurut Alquran

Penciptaan Manusia Menurut Alquran

Pendahuluan
“Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. Al Baqarah (2) : 2-3)
Ayat di atas jelas menerangkan pada kita bahwa Alquran tidak ada yang bisa diragukan lagi. Segala yang ada di dalam Alquran adalah sudah pasti benar. Kebenaran Alquran ini telah banyak terbukti oleh ilmu pengetahuan manapun. Bahkan banyak persoalan pada suatu ilmu pengetahuan yang baru terpecahkan dari Alquran. Tidak hanya ilmuwan muslim yang mengeksplor Alquran dan menjadikannya rujukan ilmu pengetahuan dan sains, tapi juga ilmuwan-ilmuwan barat yang mengembangkan teori, hukum, dan fenomena-fenomena alam yang tidak bisa dipecahkan. Alquran adalah mukjizat terbesar sepanjang masa, karena manfaatnya akan dirasakan oleh semua manusia sampai akhir jaman.
Alquran diturunkan kepada seorang Rasul yang buta huruf dan pada negeri yang cukup tertinggal dari ilmu pengetahuan. Tidak masuk akal jika menyebutkan bahwa Alquran adalah buatan Muhammad. Hal ini dikarenakan kandungan Alquran yang luar biasa banyak yang menjelaskan ilmu pengetahuan dan sains yang baru terungkap oleh alat-alat canggih jaman sekarang.
Salah satu yang Alquran jelaskan adalah mengenai teori penciptaan manusia. Bagaimana ketika manusia pertama diciptakan dan bagaimana mekanisme terbaik pembentukan jasad manusia di rahim ibunya, pembentukan ovum, sperma, dan lain sebagainya telah dijelaskan secara rinci dan detail. Pembentukan manusia ini baru terbukti oleh sains pada akhir-akhir abad ini oleh teknologi mutakhir.
Maka tidak ada yang bisa diragukan dari Alquran, termasuk mengenai teori penciptaan manusia pertama yaitu Adam adalah tidak melalui proses evolusi seperti yang dilontarkan oleh Darwin. Alquran bukan yang harus dibuktikan oleh sains dan teknologi, tapi sains dan teknologi lah yang harus dibuktikan oleh Alquran, karena Alquran sudah pasti benar.



Prapenciptaan
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Albaqarah: 30)
Malaikat adalah makhluk Allah yang paling patuh terhadap segala perintahNya. Sebelum manusia pertama atau Adam diciptakan, malaikat sudah diciptakan terlebih dahulu. Suatu ketika saat Allah memberikan pengumuman berupa rencana akan menciptakan suatu makhluk yang akan menjadi khalifah di muka bumi. Namun, makhluk yang dipilih Allah itu adalah manusia. Mengetahui hal ini malaikat sedikit “protes” pada Allah. Kita harus ingat bahwa malaikat itu makhluk yang paling taat dan patuh pada segala perintah dan keputusanNya. Akan tetapi satu hal ini yang membuat malaikat “angkat bicara” kepada Allah berkenaan dengan akan adanya penciptaan manusia ini.
Seperti yang dijelaskan oleh ayat di atas, malaikat tahu bahwa manusia yang akan diciptakan Allah tersebut akan membuat kerusakan di muka bumi. Padahal Allah menciptakan manusia dengan tujuan menjadi khalifah di muka bumi.
Allah pun menjawab “protes” para malaikat dengan kalimat “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” disini kita bisa melihat bahwa Allah lah sang perencana segalanya, Allah lah sang maha pencipta yang paling mengetahui ciptaannya. Ada sesuatu dibalik skenario yang dibuat Allah. Pasti ada sejuta hikmah dari jawaban Allah tersebut.
Ayat ini juga mengingatkan pada manusia bahwa tujuan awal kita diciptakan oleh Allah adalah untuk menjadi khalifah di muka bumi.


a) Proses Kejadian Manusia Pertama (Adam)
Di dalam Al Qur’an dijelaskan bahwa Adam diciptakan oleh Allah dari tanah yang kering kemudian dibentuk oleh Allah dengan bentuk yang sebaik-baiknya. Setelah sempurna maka oleh Allah ditiupkan ruh kepadanya maka dia menjadi hidup. Hal ini ditegaskan oleh Allah di dalam firman-Nya :
“Yang membuat sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah”. (QS. As Sajdah (32) : 7)
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”. (QS. Al Hijr (15) : 26)
Disamping itu Allah juga menjelaskan secara rinci tentang penciptaan manusia pertama itu dalah surat Al Hijr ayat 28 dan 29 .
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat : Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud” (QS. Al Hijr (15) : 28-29)
Di dalam sebuah Hadits Rasulullah saw bersabda :
“Sesunguhnya manusia itu berasal dari Adam dan Adam itu (diciptakan) dari tanah”. (HR. Bukhari)
“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!” (Albaqarah:31)
“Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana .” (Albaqarah:32)
“Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan ?” (Albaqarah:33)

“Dialah Yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu).” (Alanam:2)



b) Proses Kejadian Manusia Kedua (Siti Hawa)
Pada dasarnya segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah di dunia ini selalu dalam keadaan berpasang-pasangan. Demikian halnya dengan manusia, Allah berkehendak menciptakan lawan jenisnya untuk dijadikan kawan hidup (isteri). Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam salah satu firman-Nya :
“Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui” (QS. Yaasiin (36) : 36)
Adapun proses kejadian manusia kedua ini oleh Allah dijelaskan di dalam surat An Nisaa’ ayat 1 yaitu :
“Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya, dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang sangat banyak…” (QS. An Nisaa’ (4) : 1)
Di dalam salah satu Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dijelaskan :
“Maka sesungguhnya perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk Adam” (HR. Bukhari-Muslim)
Apabila kita amati proses kejadian manusia kedua ini, maka secara tak langsung hubungan manusia laki-laki dan perempuan melalui perkawinan adalah usaha untuk menyatukan kembali tulang rusuk yang telah dipisahkan dari tempat semula dalam bentuk yang lain. Dengan perkawinan itu maka akan lahirlah keturunan yang akan meneruskan generasinya.
c) Proses Kejadian Manusia Ketiga (semua keturunan Adam dan Hawa)
Kejadian manusia ketiga adalah kejadian semua keturunan Adam dan Hawa kecuali Nabi Isa a.s. Dalam proses ini disamping dapat ditinjau menurut Al Qur’an dan Al Hadits dapat pula ditinjau secara medis.
Di dalam Al Qur’an proses kejadian manusia secara biologis dejelaskan secara terperinci melalui firman-Nya :
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia itu dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kamudian Kami jadikan ia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah , Pencipta Yang Paling Baik.” (QS. Al Mu’minuun (23) : 12-14).
Kemudian dalam salah satu hadits Rasulullah SAW bersabda :
“Telah bersabda Rasulullah SAW dan dialah yang benar dan dibenarkan. Sesungguhnya seorang diantara kamu dikumpulkannya pembentukannya (kejadiannya) dalam rahim ibunya (embrio) selama empat puluh hari. Kemudian selama itu pula (empat puluh hari) dijadikan segumpal darah. Kemudian selama itu pula (empat puluh hari) dijadikan sepotong daging. Kemudian diutuslah beberapa malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya (untuk menuliskan/menetapkan) empat kalimat (macam) : rezekinya, ajal (umurnya), amalnya, dan buruk baik (nasibnya).” (HR. Bukhari-Muslim)
Selanjutnya yang dimaksud di dalam Al Qur’an dengan “saripati berasal dari tanah” sebagai substansi dasar kehidupan manusia adalah protein, sari-sari makanan yang kita makan yang semua berasal dan hidup dari tanah. Yang kemudian melalui proses metabolisme yang ada di dalam tubuh diantaranya menghasilkan hormon (sperma), kemudian hasil dari pernikahan (hubungan seksual), maka terjadilah pembauran antara sperma (lelaki) dan ovum (sel telur wanita) di dalam rahim. Kemudian berproses hingga mewujudkan bentuk manusia yang sempurna (seperti dijelaskan dalam ayat diatas).
“ Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari air mani yang bercampur” (QS. Addahr: 2)
“Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.”  (QS 96. Al-’Alaq: 2)
Selanjutnya, fase segumpal darah (`alaqah) berlanjut terus dari hari ke-15 sampi hari ke-24 atau ke-25 setelah sempurnanya proses pembuahan. Meskipun begitu kecil, namun para ahli embriologi mengamati proses membanyaknya sel-sel yang begitu cepat dan aktivitasnya dalam membentuk organ-organ tubuh. Mulailah tampak pertumbuhan syaraf dalam pada ujung tubuh bagian belakang embrio, terbentuk (sedikit-demi sedikit ) kepingan-kepingan benih, menjelasnya lipatan kepala; sebagai persiapan perpindahan fase ini (`alaqah kepada fase berikutnya yaitu mudhgah (mulbry stage)).Mulbry stage adalah kata dari bahasa Latin yang artinya embrio (janin) yang berwarna murberi (merah tua keungu-unguan). Karena bentuknya pada fase ini menyerupai biji murberi, karena terdapat berbagai penampakan-penampakan dan lubang-lubang (rongga-rongga) di atasnya.
Realitanya, ungkapan Al-Quran lebih mendalam, karena embrio menyerupai sepotong daging yang dikunyah dengan gigi, sehingga tampaklah tonjolan-tonjolan dan celah (rongga-rongga) dari bekas kunyahan tersebut. Inilah deskripsi yang dekat dengan kebenaran. Lubang-lubang itulah yang nantinya akan menjadi organ-organ tubuh dan anggota-anggotanya.
Di dalam Al-Quran disebutkan bahwa embrio terbagi dua; pertama, sempurna (mukhallaqah) dan kedua tidak sempurna (ghair mukhallaqah). Penafsiran dari ayat tersebut adalah: Secara ilmiah, embrio dalam fase perkembangannya seperti tidak sempurna dalam susunan organ tubuhnya. Sebagian organ (seperti kepala) tampak lebih besar dari tubuhnya dibandingkan dengan organ tubuh yang lain. Lebih penting dari itu, sebagian anggota tubuh embrio tercipta lebih dulu dari yang lainnya, bahkan bagian lain belum terbentuk. Contoh, kepala. Ia terbentuk sebelum sebelum bagian tubuh ujung belum terbentuk, seperti kedua lengan dan kaki. Setelah itu, secara perlahan mulai tampaklah lengan dan kaki tersebut. Tidak diragukan lagi, ini adalah I’jâz `ilmiy (mukjizat sains) yang terdapat di dalam Al-Quran. Karena menurut Dr. Ahmad Syauqiy al-Fanjary, kata `alaqah tidak digunakan kecuali di dalam Al-Quran.
“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (Assajdah:7-9)”
“Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka , dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. (Athuur:21)”



Interpretasi
Para ahli dari barat baru menemukan masalah pertumbuhan embrio secara bertahap pada tahun 1940 dan baru dibuktikan pada tahun 1955, tetapi dalam Al Qur’an dan Hadits yang diturunkan 15 abad lalu hal ini sudah tercantum. Ini sangat mengagumkan bagi salah seorang embriolog terkemuka dari Amerika yaitu Prof. Dr. Keith Moore, beliau mengatakan : “Saya takjub pada keakuratan ilmiah pernyataan Al Qur’an yang diturunkan pada abad ke-7 M itu”. Selain iti beliau juga mengatakan, “Dari ungkapan Al Qur’an dan hadits banyak mengilhami para scientist (ilmuwan) sekarang untuk mengetahui perkembangan hidup manusia yang diawali dengan sel tunggal (zygote) yang terbentuk ketika ovum (sel kelamin betina) dibuahi oleh sperma (sel kelamin jantan). Kesemuanya itu belum diketahui oleh Spalanzani sampai dengan eksperimennya pada abad ke-18, demikian pula ide tentang perkembangan yang dihasilkan dari perencanaan genetik dari kromosom zygote belum ditemukan sampai akhir abad ke-19. Tetapi jauh ebelumnya Al Qur’an telah menegaskan dari nutfah Dia (Allah) menciptakannya dan kemudian (hadits menjelaskan bahwa Allah) menentukan sifat-sifat dan nasibnya.”
Sebagai bukti yang konkrit di dalam penelitian ilmu genetika (janin) bahwa selama embrio berada di dalam kandungan ada tiga selubung yang menutupinya yaitu dinding abdomen (perut) ibu, dinding uterus (rahim), dan lapisan tipis amichirionic (kegelapan di dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutup/membungkus anak dalam rahim). Hal ini ternyata sangat cocok dengan apa yang dijelaskan oleh Allah di dalam Al Qur’an :
“…Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan (kegelapan dalam perut, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutup anak dalam rahim)…” (QS. Az Zumar (39) : 6).
Inilah teori penciptaan dalam Islam. Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia mengendalikan alam semesta menurut kehendak-Nya sesuai fungsi dan peran yang spesifik.
Awal penciptaan dituturkan di dalam al-Qur’an seara logis dan tegas, dengan menyatakan banyak fakta dalam penciptaan. Namun, seseorang yang membandingkan penjelasan tentang awal penciptaan seperti yang disebutkan dalam al-Qur’an dan seperti yang disebutkan dalam Kitab Kejadian itu akan dengan mudah menyimpulkan bahwa kedua buku memiliki sumber yang sama namun al-Qur’an menjelaskannya secara logis dan ilmiah.
Dari al-Mu’minun: 12-16, dapat disimpulkan sebagai berikut:
  • Adam diciptakan dari tanah liat secara langsung, atau secara tidak langsung dari bahan dasar lumpur. Sebelum berubah menjadi manusia, Adam menerima hembusan ruh dari Allah nafas yang memberinya kemampuan kemampuan untuk belajar dan potensi untuk mengenali.
  • Hawa diciptakan dari sel atau tulang Adam. Penciptaan tersebut memberi penjelasan yang masuk akal mengenai kesamaan antara peta genetik dan jumlah chromosom pada kedua Adam dan Hawa.
Dalam teori penciptaan dalam Islam, Allah menentukan peran bagi Hawa, seorang perempuan diciptakan dari laki-laki, yang ditugaskan di Al-Qur’an dengan ayat-ayat berikut:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (ar-Rum: 21)
Allah juga berfirman, ‘Allah menjadikan bagi kamu istri-istri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari istri-istri kamu itu, anak anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang batil dan mengingkari nikmat Allah?’ [an-Nahl: 72]
Menurut ayat-ayat ini, teori penciptaan menurut Islam itu mencakup hal-hal berikut:
  • Allah menganugerahi Adam isteri dengan sifat-sifat tertentu untuk tujuan kasih sayang dan rahmat.
  • Allah memberi Hawa fitur reproduksi untuk memberikan anak laki-laki dan perempuan.
  • Sesuai kehendak Allah, Adam dan Hawa merupakan bagian dari bangunan masyarakat yang lengkap, yang terdiri dari orang tua, anak, cucu, dan seterusnya.
  • Allah menentukan desain fitur-fitur manusia dalam air sperma yang dipancarkan manusia dengan DNA yang spesifik, peta genetika atau jumlah chromosom bersama antara pasangan perkawinan, laki-laki dan perempuan.
  • Allah menjaga sumber kelangsungan kehidupan makhluk-Nya. Karena itu, Allah mengatur kerajaan tumbuhan sebagai makhluk otonom yang menyediakan makanan yang diperlukan untuk kerajaan manusia.
  • Dia mengatur siklus untuk menghasilkan air tawar untuk minuman manusia dan pengairan tanaman yang mereka makan.
  • Allah mengelola pasokan energi untuk makhluk-Nya demgam proses fotosintesis yang ajaib, yang menyimpan energi dari matahari menjadi buah yang dapat dimakan.
Sebagaimana teori evolusi nihil logika kehidupan evolusi, Biogenesis juga gagal dalam mengasumsi awal mula kehidupan dalam zat kimia dengan regenerasi imajiner spontan. Dalam al-Qur’an, Allah menyatakan bahwa Dia adalah Pencipta kehidupan dan kematian.
Teori Penciptaan dalam Islam mengenai peran Pencipta sebagai Pencipta unsur kehidupan. Unsur seperti itu tidak diketahui sampai sekarang oleh manusia. Teori Darwin tidak mampu menjelaskan mengenai ruh. Tanpa ruh, sebuah jasad yang ada tidak akan berfungsi, tidak akan hidup. Ruh masih menjadi misteri dalam sains dan teknologi. Hanya Allah yang tahu, bahkan di Alquran pun dikatakan bahwa Allah lah yang memegang kunci rahasia alam ruh. Jiwa ditiupkan ke dalam Adam dan juga ditiupkan ke dalam setiap manusia. Hal ini menjadi rahasia Allah semata, tidak seorang pun bisa mendefinisikannya.
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah, ‘Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (al-Isra’: 85)
Allah dalam teori Penciptaan dalam Islam tidak hanya membuat badan kita hidup, tetapi ia juga membentuk rupa kita agar terlihat seperti rupa manusia. Allah memiliki nama lain dalam Al-Qur’an selain al-Khaliq (Pencipta), yaitu al-Mushawwir (Yang membentuk rupa).
“Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (al-Hasyr: 24)
Dari penjelasan singkat di atas dapat ditarik sebuah konklusi bahwa Al-Quran bukan hanya sebagai kitab suci yang membacanya merupakan ibadah, namun ia juga merupakan sebuah kitab yang banyak mengandung tanda-tanda ilmiah. Hal ini semakin membuktikan bahwa Al-Quran itu benar-benar wahyu dari Allah, bukan buatan Muhammad SAW.

Falsafah Kejadian Manusia Menurut Sains Dari Perspektif Islam





PERINGKAT-PERINGKAT KEJADIAN MANUSIA

Buku “The Developing Human” (Makna: “Manusia Yang Berkembang”-pent.) ditulis oleh Profesor Keith Moore telah diterjemahkan ke lapan bahasa. Buku ini dianggap sebagai satu rujukan saintifik dan dipilih oleh satu jawatankuasa khas di Amerika Utara sebagai buku terbaik yang ditulis seorang penulis. Kami bertemu dengan penulisnya dan membentangkan kepadanya beberapa ayat-ayat Al-Quran dan Hadis yang berkaitan dengan bidang kepakaraannya dalam kajian embrio.

Profesor Moore yakin dengan bukti-bukti yang kami tunjukkan. Justeru, kami tanyakannya soalan berikut: “Tuan menyatakan di dalam buku tuan bahawa ketika Zaman Pertengahan (‘Middle Ages’) tiada perkembangan di dalam pengkajian sains embrio dan hanya sedikit ilmu tentangnya ujud ketika itu. Pada masa itulah Al-Quran diwahyukan kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan baginda s.a.w. memimpin manusia berdasarkan apa yang Allah s.w.t wahyukan kepadanya. Terdapat di dalam Al-Quran penerangan terperinci mengenai penciptaan manusia dan peringkat-peringkat perkembangan manusia. Tuan seorang ahli sains yang terkenal di seluruh dunia. Jadi mengapa tuan tidak berlaku adil dan menyatakan kebenaran ini di dalam buku tuan?

Beliau menjawab: Anda ada buktinya dan saya tiada. Jadi, mengapa anda tidak mebentangkan bukti-bukti itu kepada kami?

Kami bentangkan kepadanya fakta-fakta (dari Al-Quran dan Hadis) itu dan Profesor Moore terbukti sebagai seorang ahli ilmu yang hebat. Di dalam edisi ketiga bukunya, beliau membuat beberapa perubahan. Buku ini telah diterjemahkan ke lapan bahasa, termasuklah Bahasa Rusia, Cina, Jepun, Jerman, Itali, Pertugis, dan Yoguslavia. Buku ini telah diedarkan keseluruh dunia dan dibaca oleh kebanyakan ahli-ahli sains terkemuka dunia.

Profesor Moore menulis di dalam bukunya mengenai Zaman Pertengahan: Perkembangan sains amat perlahan ketika Zaman Pertengahan, dan ada beberapa kajian penting mengenai embrio dibuat di zaman itu yang kita ketahui. Ada disebut di dalam Al-Quran, kitab suci orang Islam, bahawa manusia terbentuk hasil dari percantuman antara air benih lelaki dan wanita. Beberapa ayat memperkatakan tentang penciptaan manusia dari setitik air mani, dan ada juga ayat yang menyatakan bahawa ‘makhluk‘ yang tehasil dari percantuman itu akan hidup seperti ‘benih’ di dalam tubuh wanita enam hari selepas kemudian. (‘Blastocyst’ manusia mula hidup selepas 6 hari percantuman antara benih lelaki dan telur wanita. Rujuk Gambarajah 4.1)



Al-Quran juga menyebut bahawa air mani bertukar menjadi seketul darah beku. (‘Blastocyst’ yang hidup atau yang keguguran berbentuk seperti darah beku). Selain dari itu, menurut Al-Quran embrio juga dinyatakan berbentuk seperti lintah. Embrio sememangnya berbentuk seperti seekor lintah. Embrio juga disamakan bentuknya dengan sesuatu yang dimamah- seperti ‘gum’ atau kayu. (‘Somites’ memang nampak seolah-olah sesuatu yang ada kesan gigi akibat dimamah- Tengok gambarajah 4.2).



Embrio yang sedang membesar disifatkan sebagai manusia ketika berumur 40 hingga 42 hari. Ketika itu embrio manusia tidak lagi berbentuk seperti embrio binatang. (Rujuk Gambarajah 4.3) (Embrio manusia mula mempunyai ciri-ciri kemanusiaan pada peringkat ini). Al-Quran juga menyatakan bahawa embrio membesar di dalam tiga keadaan atau dinding yang gelap. Ini mungkin merujuk kepada (1) dinding perut ibu (2) dinding ‘uterine’, dan (3) ‘amniochorionic membrane’ (rujuk Gambarajah 4.4.). Ruangan yang terhad tidak membenarkan perbincangan lanjut mengenai banyak lagi ayat-ayat Al-Quran yang memperkatakan tentang perkembangan bayi di dalam kandungan.



Itulah kenyataan Dr. Moore di dalam bukunya yang telahpun didearkan ke seluruh dunia, segala puji-pujian hanya untuk Allah s.w.t.. Penemuan sains telah menyebabkan Profesor Moore merasa bertanggungjawab untuk menulis perkara-perkara tersebut di dalam bukunya. Beliau kemudiannya berkesimpulan bahawa pengkelasan moden mengenai peringkat-peringkat perkembangan embrio, yang dipakai di seluruh dunia, susah untuk digunakan dan tidak lengkap. Ia tidak menyumbang kearah usaha memahami peringkat-peringkat perkembangan embrio kerana ianya dikelaskan berdasarkan nombor, iaitu peringkat 1, 2, 3, dan seterusnya. Pengkelasan yang Al-Quran nyatakan pula tidak bergantung kepada system nombor. Sebaliknya ianya berdasarkan kepada keadaan embrio yang senang dicamkan atau bentuk embrio ketika itu.

Al-Quran mengenalpasti peringkat-peringkat perkembangan kandungan seperti berikut: Nutfah yang bermakna “satu titisan” atau “sedikit jumlah air”; ‘alaqah yang bermaksud “satu makhluk yang berbentuk seperti lintah”; mudghah yang bermakna “sesuatu yang kelihatan seperti dimamah”; ‘idhaam yang bermakna “tulang” atau “skeleton”; kisaa ul idham bil-laham yang bermakna pembungkusan tulang dengan daging atau otot, dan al-nash’a yang bermakna “pembentukan janin yang boleh dicamkan”. Profesor Mooree menyedari bahawa pengkelasan oleh Al-Quran ini berdasarkan kepada peringkat-peringkat kandungan bayi yang berbeza. Beliau mengakui bahawa cara pengkelasan ini memberikan satu pengenalan saintifk yang canggih dan ianya lengkap dan senang digunakan.

Di dalam satu persidangan yang dihadirinya, Profesor Moore berkata begini:

Embrio berkembang di dalam rahim ibu atau ‘uterus’ dengan dilindungi oleh tiga lapisan pelindung seperti yang ditunjukkan di dalam ‘slide’ yang berikutnya [‘Slide’ tidak ditunjukkan-pent] (A) ialah dinding perut ‘anterior (B) dinding ‘uterine’ dan (C) ‘amniochorionic membrane (Rujuk Gambarajah 4.5) Perubahan proses yang berterusan menyebabkan pemeringkatan embrio manusia amat kompleks. Justeru, dicadangkan satu sistem pengkelasan yang baru diperkenalkan dengan menggunakan perkataan-perkataan yang digunakan di dalam Al-Quran dan Hadis. Sistem yang dicadangkan ini amat mudah, menyeluruh, dan menepati fakta-fakta terkini mengenai kajian embrio.



Kajian mendalam mengenai Al-Quran dan Hadis sejak empat tahun yang lalu telah memberitahu kita tentang satu sistem untuk mengkelaskan embrio manusia yang amat menakjubkan disebabkan ianya di’catat’kan pada abad ke-7 Masehi. Walaupun Aristotle, pengasas kajian sains embrio, menyedari tentang embrio ayam yang berkembang berperingkat-peringkat melalui kajiannya terhadap telur ayam pada abad ke-4 Sebelum-Masehi, dia tidak mencatatkan dengan terperinci mengenai peringkat-peringkat perkembangan itu. Justeru, tidak munasabah untuk dikatakan huraian Al-Quran mengenai embrio manusia berdasarkan kajian sains ketika abad ke-7 itu. Apa yang munasabah hanyalah hakikat bahawa penerangan itu diwahyukan kepada sendiri oleh Allah s.w.t. kepada Nabi Muhammad s.a.w.. Baginda tidak mungkin tahu mengenai fakta-fakta itu kerana baginda seorang yang tidak tahu membaca dan tidak pernah mengikuti sebarang kursus berkaitan sains.

Kami memberitahu Dr. Moore, ‘Apa yang tuan kata itu benar, tetapi ia masih pincang berbanding banyak lagi ayat-ayat berkaitan kajian embrio dari Al-Quran dan Hadis yang telah kami bentangkan kepada tuan itu. Jadi, mengapa tuan tidak berlaku adil dan bentangkan keseluruhan ayat-ayat Al-Quran dan Hadis yang membincangkan bidang kepakaran tuan itu?”.

Profesor Moore menegaskan beliau telah pun memasukkan rujukan yang sesuai di dalam buku saintifik yang khusus. Walaubagaimanapun, beliau mengajak kami menambah di dalam bukunya mana-mana ayat Al-Quran dan Hadis yang berkenaan, dan menerangkan tentang aspek keajaiban ayat-ayat itu. Kami lakukan yang demikian dan kemudiannya Profesor Moore menulis mukadimah kepada tambahan bercorak Islamik ini dan hasilnya seperti yang anda saksikan sekarang. Di setiap mukasurat yang mengandungi fakta mengenai kajian sains embrio, kami catatkan juga ayat-ayat Al-Quran dan hadis yang berkaitan. Apa yang kita saksikan hari ini ialah Islam sedang mara ke dunia baru di dalam satu kelompok manusia yang adil dan berfikran terbuka.

Penciptaan manusia dan aspek-aspeknya itu ditegaskan dalam banyak ayat. Beberapa informasi di dalam ayat-ayat ini sedemikian rinci. Beberapa di antaranya sebagai berikut:
1. Manusia tidak diciptakan dari mani yang lengkap, tetapi dari sebagian kecilnya
(spermazoa).
2. Sel kelamin laki-lakilah yang menentukan jenis kelamin bayi.
3. Janin manusia melekat pada rahim sang ibu bagaikan lintah.
4. Manusia berkembang di tiga kawasan yang gelap di dalam rahim.
Penjelasan :
.Setetes Mani.
Sebelum proses fertilisasi (baca : pembuahan) terjadi, 250 juta sperma terpancar dari si laki-laki pada satu waktu dan menuju sel telur yang jumlahnya hanya satu setiap siklusnya (hanya satu loh :p ). Sperma-sperma melakukan perjalanan yang sulit di tubuh si ibu sampai menuju sel telur karena saluran reproduksi wanita yang berbelok2, kadar keasaman yang tidak sesuai dengan sperma, gerakan ‘menyapu’ dari dalam saluran reproduksi wanita,dan juga gaya gravitasi yang berlawanan (lihat? susah tauu sperma ketemu sel telur. makanya orang yang aborsi itu PARAH banget dosanya dan ga bersyukurnya!)
Nah,Hanya seribu dari 250 juta sperma yang berhasil mencapai sel telur. Sel telur, hanya akan membolehkan masuk SATU sperma saja (persaingan ketat, kawan :p). Setelah masuk dan terjadi fertilisasi pun,,belum tentu si zygot ini (bahasa biologinya : konseptus) menempel di tempat yang tepat di rahim. kemungkinan salahnya banyak loh. dan sekali salah, bisa berbahaya buat ibunya. Alhamdulillah kita masih normal dan mungkin mamah kita ga mengalami gangguan pada masalah itu, maka, bersyukurlah teman :)
Dari uraian di atas,,terlihat bahwa bahan manusia bukan mani seluruhnya, melainkan hanya sebagian kecil darinya.
Hal ini dijelaskan dalam Al-Qur’an :
“Apakah manusia mengira akan dibiarkan tak terurus? Bukankah ia hanya setitik mani yang dipancarkan?” (QS Al Qiyamah:36-37)
Seperti yang telah kita amati, Al-Qur’an memberi tahu kita bahwa manusia tidak terbuat dari mani selengkapnya, tetapi hanya bagian kecil darinya. manusia juga terbuat dari sel telur ibunya. Bahwa tekanan khusus dalam pernyataan ini mengumumkan suatu fakta yang baru ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern itu merupakan bukti bahwa pernyataan tersebut berasal dari Ilahi.
.Segumpal Darah Yang Melekat di Rahim.
Ketika sperma dari laki-laki bergabung dengan sel telur wanita,terbentuk sebuah sel tunggal. Sel tunggal yang dikenal sebagai “zigot” dalam ilmu biologi ini akan segera berkembang biak dengan membelah diri hingga akhirnya menjadi “segumpal daging”. Tentu saja hal ini hanya dapat dilihat oleh manusia dengan bantuan mikroskop. dan jangan dikira prosesnya simpel dan mudah. prosesnya kompleks dan kritis, teman! di setiap proses pembelahannya, kalo sampe ada kesalahan kecil sedikiiit aja pas tahap2 tertentu,, fetus bisa mengalami kecacatan..
lanjut lagi, ya.
Tapi, zigot tersebut tidak melewatkan tahap pertumbuhannya begitu saja. Ia melekat pada dinding rahim seperti akar yang kokoh menancap di bumi dengan carangnya. Kenal istilah plasenta kan?? nah, tempat menempelnya embryo dengan rahim ibu itu disebut plasenta..
Melalui hubungan semacam ini, zigot mampu mendapatkan zat-zat penting dari tubuh sang ibu bagi pertumbuhannya (Moore, Keith L., E. Marshall Johnson, T. V. N. Persaud, Gerald C. Goeringer, Abdul-Majeed A. Zindani, and Mustafa A. Ahmed, 1992, Human Development as Described in the Qur’an and Sunnah, Makkah, Commission on Scientific Signs of the Qur’an and Sunnah, s. 36). jadi ungkapan anak adalah darah dan daging bapak ibunya itu sangat benar sekali. karena bener2 nempel di daging ibu, dan dapet darah dari ibu..
Di sini, pada bagian ini, satu keajaiban penting dari Al Qur’an terungkap. Saat merujuk pada zigot yang sedang tumbuh dalam rahim ibu, Allah menggunakan kata “‘alaq” dalam Al Qur’an:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari ‘alaq (segumpal darah). Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah.” (QS Al ‘Alaq:1-3)
Arti kata “‘alaq” dalam bahasa Arab adalah “sesuatu yang menempel pada suatu tempat”. Kata ini secara harfiah digunakan untuk menggambarkan lintah yang menempel pada tubuh untuk menghisap darah.
.Pembungkusan Tulang oleh Otot.
Sisi penting lain tentang informasi yang disebutkan dalam ayat-ayat Al Qur’an adalah tahap-tahap pembentukan manusia dalam rahim ibu. Disebutkan dalam ayat tersebut bahwa dalam rahim ibu, mulanya tulang-tulang terbentuk, dan selanjutnya terbentuklah otot yang membungkus tulang-tulang ini.
“Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik” (QS Al Mu’minun:14)
Embriologi adalah cabang ilmu yang mempelajari perkembangan embrio dalam rahim ibu. Hingga akhir-akhir ini, para ahli embriologi beranggapan bahwa tulang dan otot dalam embrio terbentuk secara bersamaan. Karenanya, sejak lama banyak orang yang menyatakan bahwa ayat ini bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Namun, penelitian canggih dengan mikroskop yang dilakukan dengan menggunakan perkembangan teknologi baru telah mengungkap bahwa pernyataan Al Qur’an adalah benar kata demi katanya.
Penelitian di tingkat mikroskopis ini menunjukkan bahwa perkembangan dalam rahim ibu terjadi dengan cara persis seperti yang digambarkan dalam ayat tersebut. Pertama, jaringan tulang rawan embrio mulai mengeras. Kemudian sel-sel otot yang terpilih dari jaringan di sekitar tulang-tulang bergabung dan membungkus tulang-tulang ini.
Peristiwa ini digambarkan dalam sebuah terbitan ilmiah dengan kalimat berikut:
Dalam minggu ketujuh, rangka mulai tersebar ke seluruh tubuh dan tulang-tulang mencapai bentuknya yang kita kenal. Pada akhir minggu ketujuh dan selama minggu kedelapan, otot-otot menempati posisinya di sekeliling bentukan tulang. (Moore, Developing Human, 6. edition,1998.)
.Tiga Tahapan Bayi Dalam Rahim.
Dalam Al Qur’an dipaparkan bahwa manusia diciptakan melalui tiga tahapan dalam rahim ibunya.
“… Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?” (Al Qur’an, 39:6)
Sebagaimana yang akan dipahami, dalam ayat ini ditunjukkan bahwa seorang manusia diciptakan dalam tubuh ibunya dalam tiga tahapan yang berbeda. Sungguh, biologi modern telah mengungkap bahwa pembentukan embrio pada bayi terjadi dalam tiga tempat yang berbeda dalam rahim ibu. Sekarang, di semua buku pelajaran embriologi yang dipakai di berbagai fakultas kedokteran, hal ini dijadikan sebagai pengetahuan dasar. Misalnya, dalam buku Basic Human Embryology, sebuah buku referensi utama dalam bidang embriologi, fakta ini diuraikan sebagai berikut:
“Kehidupan dalam rahim memiliki tiga tahapan: pre-embrionik; dua setengah minggu pertama, embrionik; sampai akhir minggu ke delapan, dan janin; dari minggu ke delapan sampai kelahiran.” (Williams P., Basic Human Embryology, 3. edition, 1984, s. 64.)
Fase-fase ini mengacu pada tahap-tahap yang berbeda dari perkembangan seorang bayi. Ringkasnya, ciri-ciri tahap perkembangan bayi dalam rahim adalah sebagaimana berikut:
- Tahap Pre-embrionik
Pada tahap pertama, zigot tumbuh membesar melalui pembelahan sel, dan terbentuklah segumpalan sel yang kemudian membenamkan diri pada dinding rahim. Seiring pertumbuhan zigot yang semakin membesar, sel-sel penyusunnya pun mengatur diri mereka sendiri guna membentuk tiga lapisan (bahasa biologinya disebut lapisan lembaga ektoderm, mesoderm, endoderm :p)
- Tahap Embrionik
Tahap kedua ini berlangsung selama lima setengah minggu. Pada masa ini bayi disebut sebagai “embrio”. Pada tahap ini, organ dan sistem tubuh bayi mulai terbentuk dari lapisan- lapisan sel tersebut. pada tahap ini juga terjadi pembentukan organ2 tubuh. dan pengaturan posisi, sumbu tubuh, dan pembentukan tubuh. pernah nyadar ga kalo kita, manusia itu, sebelum tahap ini adalah sebuah KEPING ! jadi ga keping lagi ya karena adanya tahap2 ini.. :)
- Tahap fetus
Dimulai dari tahap ini dan seterusnya, bayi disebut sebagai “fetus”. Tahap ini dimulai sejak kehamilan bulan kedelapan dan berakhir hingga masa kelahiran. Ciri khusus tahapan ini adalah terlihatnya fetus menyerupai manusia, dengan wajah, kedua tangan dan kakinya. Meskipun pada awalnya memiliki panjang 3 cm, kesemua organnya telah nampak. Tahap ini berlangsung selama kurang lebih 30 minggu, dan perkembangan berlanjut hingga minggu kelahiran.
.Yang Menentukan Jenis Kelamin Bayi.
“Dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita, dari air mani, apabila dipancarkan.” (QS An Najm:45-46)
Cabang-cabang ilmu pengetahuan yang berkembang seperti genetika dan biologi molekuler telah membenarkan secara ilmiah ketepatan informasi yang diberikan Al Qur’an ini. Kini diketahui bahwa jenis kelamin ditentukan oleh sel-sel sperma dari tubuh pria, dan bahwa wanita tidak berperan dalam proses penentuan jenis kelamin ini.
Kromosom adalah unsur utama dalam penentuan jenis kelamin. Dua dari 46 kromosom yang menentukan bentuk seorang manusia diketahui sebagai kromosom kelamin. Dua kromosom ini disebut “XY” pada pria, dan “XX” pada wanita. Penamaan ini didasarkan pada bentuk kromosom tersebut yang menyerupai bentuk huruf-huruf ini. Kromosom Y membawa gen-gen yang mengkode sifat-sifat kelelakian, sedangkan kromosom X membawa gen-gen yang mengkode sifat-sifat kewanitaan.
Pembentukan seorang manusia baru berawal dari penggabungan silang salah satu dari kromosom ini, yang pada pria dan wanita ada dalam keadaan berpasangan. Pada wanita, kedua bagian sel kelamin, yang membelah menjadi dua selama peristiwa ovulasi, membawa kromosom X. Sebaliknya, sel kelamin seorang pria menghasilkan dua sel sperma yang berbeda, satu berisi kromosom X, dan yang lainnya berisi kromosom Y. Jika satu sel telur berkromosom X dari wanita ini bergabung dengan sperma yang membawa kromosom Y, maka bayi yang akan lahir berjenis kelamin pria.
Dengan kata lain, jenis kelamin bayi ditentukan oleh jenis kromosom mana dari pria yang bergabung dengan sel telur wanita.
.Saripati Tanah dalam Campuran Air Mani.
Cairan yang disebut mani tidak mengandung sperma saja. Cairan ini justru tersusun dari campuran berbagai cairan yang berlainan. Cairan-cairan ini mempunyai fungsi-fungsi semisal mengandung gula yang diperlukan untuk menyediakan energi bagi sperma, menetralkan asam di pintu masuk rahim, dan melicinkan lingkungan agar memudahkan pergerakan sperma.
Yang cukup menarik, ketika mani disinggung di Al-Qur’an, fakta ini, yang ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern, juga menunjukkan bahwa mani itu ditetapkan sebagai cairan campuran:
“Sungguh, Kami ciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, lalu Kami beri dia (anugerah) pendengaran dan penglihatan.” (Al Qur’an, 76:2)
Di ayat lain, mani lagi-lagi disebut sebagai campuran dan ditekankan bahwa manusia diciptakan dari “bahan campuran” ini:
“Dialah Yang menciptakan segalanya dengan sebaik-baiknya, Dia mulai menciptakan manusia dari tanah liat. Kemudian Ia menjadikan keturunannya dari sari air yang hina.” (Al Qur’an, 32:7-8)
Kata Arab “sulala”, yang diterjemahkan sebagai “sari”, berarti bagian yang mendasar atau terbaik dari sesuatu. Dengan kata lain, ini berarti “bagian dari suatu kesatuan”. Ini menunjukkan bahwa Al Qur’an merupakan firman dari Yang Berkehendak Yang mengetahui penciptaan manusia hingga serinci-rincinya. Yang Berkehendak ini ialah Pencipta manusia.

Ada baiknya saya si Raba-raba memberi tanggapan tentang penciptaan manusia
yang saya tahu dengan berdasarkan pada sumber-sumber info dari sains dan
ayat-ayat Quran. Berbicara tentang bagaimana terciptanya manusia maka ada
dua hal penting yang perlu diperhatikan, yaitu :

1. Penciptaan umat manusia pada awal pertamakalinya, yang perkembangannya
di Bumi melalui proses evolusi yang memakan waktu sangat lama.

2. Penciptaan setiap individu manusia, yang lahir dan berkembang dalam
rahim ibunya melalui proses reproduksi.

Dua hal tersebut yakni proses reproduksi dan proses evolusi memiliki
persamaan sekaligus perbedaan. Persamaannya adalah sama-sama menghasilkan
terciptanya manusia, sedang perbedaannya tentunya ada pada waktu lamanya
proses. Proses reproduksi manusia hanya memakan waktu bulanan, sedangkan
proses evolusi memakan waktu jutaan tahun (menurut sains).

Bentuk perkembangan embrio selama proses reproduksi - dimulai dari bentuk
sel-sel sperma hingga berubah sedemikian rupa menjadi berwujud bayi manusia
memberi petunjuk bahwa proses penciptaan manusia dilakukan Allah secara
bertahap. Para ahli banyak yang berpendapat kalau proses perubahan bentuk
tersebut sebenarnya miniatur 'waktu' dari proses evolusi. Pernahkah kita
memikirkan kenapa Allah tidak menjadikan manusia selama dalam rahim 'Bim
Salabim' langsung jadi berujud bayi ? Jika proses reproduksi saja
berlangsung secara bertahap, apalagi proses evolusi penciptaan manusia pada
pertamakalinya, adanya dugaan juga berlangsung secara bertahap adalah hal
yang sangat dimungkinkan.
Masalahnya sekarang adakah ayat-ayat dalam Quran yang menyinggung/ membahas
atau setidak-tidaknya memberi petunjuk tentang sinyalemen bahwa manusia
tercipta pertamakali secara bertahap [evolusi] ?

Disini saya akan coba bahas tentang teori evolusi, sedang proses reproduksi
insya Allah akan dibahas lain waktu. 
Saya perhatikan banyak ayat-ayat dalam Quran yang membahas tentang
asal-usul serta proses penciptaan manusia, diantaranya sebagai berikut :

# Q.S. 29. Al’Ankabuut, ayat 20 :
# Katakanlah : “Berjalanlah di muka Bumi maka pelajarilah bagaimana Allah
menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya
sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

# Q.S. 76. Al Insaan, ayat 1 :
# “Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia
ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut (manusia) ?”

# Q.S.  3. Ali Imran, ayat 59 :
# Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah adalah seperti
(penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah kemudian Allah
berfirman: “Jadilah” (kun fayakun), maka jadilah dia.


Tinjauan sekilas tentang Teori Evolusi

Para ahli/ biolog pada umumnya sependapat dengan Teori Evolusi yang
disodorkan oleh Charles Darwin yang pada pokoknya berpendapat bahwa semua
spesies yang ada di Bumi ini (termasuk manusia) berasal dari perkembangan
spesies-spesies yang ada sebelumnya, dan semua spesies-spesies makhluk
hidup tersebut berkembang berawal mula dari makhluk bersel satu. Proses
perkembangan makhluk hidup dari makhluk bersel satu menjadi makhluk hidup
yang kompleks sekarang ini (termasuk manusia) terjadi melalui proses
evolusi secara bertahap dan dalam waktu yang sangat lama. Selama proses
evolusi berlangsung, terjadi apa yang dinamakan ‘seleksi alam’ yakni hanya
spesies-spesies yang mampu beradaptasi sajalah yang bertahan hidup
sekaligus mengembangkan keturunannya. Dengan beradaptasi juga berarti
terjadinya perubahan bentuk fisik sedikit demi sedikit sehingga dalam
jangka waktu yang amat lama akan dihasilkan spesies baru yang berbeda dari
leluhurnya.

Selain Darwin juga ada ahli-ahli lainnya yang mengemukakan teori evolusi
yaitu Lamarck,  Bufaan, dan Erasmus. Akan tetapi diantara mereka itu justru
Darwin saja yang memberikan bukti-bukti yang memperkuat kebenaran teorinya.
Bukti-bukti yang dijadikan dasar teorinya adalah adanya persamaan biologis
sbb:

# Jantung manusia sama dengan jantung kuda, keledai, kelinci, burung.
Begitu pula pembuluh-pembuluh darahnya, alat-alat pencernaan seperti
kelenjar ludah, lambung, usus duabelas jari pankreas, usus halus, usus
besar dan anus terdapat persamaan. Demikian juga alat-alat keturunan yaitu
kelamin, pelinsir, peneloran,saluran peneloran alat seni yaitu ginjal
kantong seni, dll. Alat pernafasan seperti paru-paru kanan, kiri, sekat
rongga, bronchia, terdapat persamaan-persamaan.

# Masa kandungan ikan paus, monyet, dan manusia adalah sama yaitu 9
(sembilan) bulan 10 (sepuluh) hari.

# Banyaknya jari pada tangan dari setiap manusia, monyet, kelinci, kodok,
tupai adalah lima.

# Banyaknya ruas pada leher jerapah, landak, manusia adalah sama yaitu 7
(tujuh).

Setelah ia berhasil melakukan penyelidikan dan penelitian banyak makhluk
hidup yang hasilnya diantaranya telah dikemukakan tersebut di atas, ia juga
mempelajari geologi, terutama mengenai fosil, yang berakhir dengan
kesimpulan bahwa deretan fosil yang terdapat pada batuan muda, berbeda
apabila dibandingkan dengan fosil-fosil dari batuan yang lebih tua.
Perbedaan tersebut merupakan bukti adanya perubahan yang berlangsung secara
perlahan-lahan dan memakan waktu yang lama (evolusi).

Darwin berhasil merumuskan teorinya itu setelah melakukan penyelidikan yang
dilakukannya selama puluhan tahun mengelilingi dunia, tanpa digaji,
mengikuti ekspedisi A.L Inggris dengan kapal Beagle.

Teori tersebut kebenarannya lebih diperkuat lagi dengan hasil penyelidikan
dan penelitian kemudian yang berhasil menemukan fosil-fosil manusia purba,
antara lain :

# Tahun 1894 di Trinil (Ngawi) telah ditemukan fosil-fosil Homo Erektus,
yakni manusia purba yang berdiri tegak oleh Dr. Dubois. Selain di Jawa dan
Peking, fosil-fosil Homo Erektus ditemukan juga di Aljazair, Tanzania,
Afrika Selatan, dan Jerman.

# Tahun 1896 di Lembah Neanderthal diketemukan fosil yang serupa dengan
manusia, yang kemudian disebut Homo Sapiens reanderthalensis. Ia bukan pra
manusia, tapi manusia meskipun wajahnya menyeramkan. Makhluk ini pendek,
tidak berdagu dan menonjol di atas matanya, otaknya sama besar dengan
manusia sekarang, hidup di gua-gua menggunakan api, dan dapat membuat
alat-alat. Anggota keluarga yang mati dikuburnya.

# Sekitar 25.000 – 50.000 tahun yang lalu terjadi hubungan antara manusia
Neanderthal dengan kelompok Homonidae baru, yaitu manusia Cro Magnon, yang
fosil-fosilnya ditemukan di sebuah gua di Perancis. Kalangan antropolog
pada umumnya sependapat menempatkan manusia Cro Magnon pada spesies yang
sama dengan kita yaitu Homo Sapiens. Ciri manusia ini tinggi, mempunyai
otak yang sama besarnya dengan otak manusia sekarang.

Demikianlah proses terjadinya manusia menurut dunia ilmu pengetahuan.
Apabila beberapa ayat suci tersebut di atas ditafsirkan dalam hubungannya
dengan hasil penyelidikan/ penelitian sains sebagaimana telah diuraikan,
maka :

1. Keterangan yang terkandung dalam Q.S. 29. Al’Ankabuut, ayat 20 yang
artinya seperti telah dikutip di atas, kalau benar bahwa penciptaan Adam
terwujud dengan tiba-tiba maka ayat ini tidak akan pernah ada, karena
dengan jelas ayat tersebut menyatakan bahwa proses penciptaan manusia dapat
dipelajari dan caranya kita disuruh menelusuri bukti-buktinya di muka Bumi,
persis sebagaimana yang telah dilakukan Darwin yang pada akhirnya berhasil
menemukan bukti-bukti berupa fosil yang tersebar di berbagai lapisan batuan
di muka Bumi. Hal ini tidaklah berarti Allah tidak kuasa untuk
melakukannya, akan tetapi karena Maha Bijaksana, Maha Pengasih, Maha
Pemurah, sengaja agar manusia mau mempelajari bagaimana proses penciptaan
manusia pada asal mulanya, maka diciptakan oleh-Nya melalui proses evolusi
supaya dapat dilacak dari fosil-fosilnya sebagai bukti pelajaran bagi
manusia akan kebesaran Illahi.

2. Tentang terjadinya proses evolusi, dasarnya dapat diketahui dari
keterangan yang terkandung dalam :

# Q.S. 87. Al A’laa, ayat 1, 2 yang artinya :
# Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi, yang menciptakan dan
menyempurnakan (ciptaan-Nya).

# Q.S. 15. Al Hijr, ayat 29 yang artinya :
# Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya (manusia), dan telah
meniupkan ruh ke dalamnya maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.

# Q.S. 71. Nuh, ayat 14 yang artinya :
# Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan
kejadian.

Menyempurnakan adalah berarti suatu proses yang berlangsung terus dan
berlanjut, untuk meningkatkan sesuatu menjadi lebih baik dari keadaan
sebelumnya. Adanya kata menyempurnakan ciptaan-Nya pada ayat tersebut di
atas menunjukkan bahwa Tuhan menciptakan sesuatu (termasuk manusia) tidak
dengan secara tiba-tiba namun melalui proses yang dibangun-Nya secara
bertahap dari hal yang kurang sempurna pada akhirnya nanti menjadi
sempurna. Kalau Allah menciptakan segala sesuatu dengan tiba-tiba langsung
jadi, maka tidak perlu ada penyempurnaan dan tahapan-tahapan kejadian.

Kecuali itu mukjizat-mukjizat khusus yang dianugerahkan kepada hamba-Nya,
sebagai contoh : penciptaan burung dari tanah oleh Nabi Isa, penciptaan
ular besar dari tongkat oleh Nabi Musa, dll.

# Q.S. 71. Nuh, ayat 17 yang artinya :
# Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya.

Adalah suatu hal yang lumrah untuk memakai istilah tumbuh bagi tumbuhan
yang sedang berkembang ke arah kedewasaan, namun jelas-jelas ayat tersebut
menyatakan bahwa kita tumbuh dari tanah. Tampaknya Allah memberi informasi
bahwa penciptaan manusia dari tanah tidak secara tiba-tiba namun melalui
suatu proses seperti layaknya tumbuhnya tanaman, yakni dari unsur-unsur
dalam tanah yang kemudian melalui proses evolusi berkembang kompleks
menjadi makhluk yang lebih sempurna.

# Q.S. 30. Ar Ruum, ayat 27 yang artinya :
# Dan Dialah yang menciptakan manusia dari permulaan, kemudian
mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu
adalah lebih mudah bagi-Nya.

Ayat tersebut menegaskan adanya perbedaan tingkat kesulitan, antara
menghidupkan manusia di Dunia dengan di Akhirat, dimana menghidupkan
kembali manusia di Akhirat adalah jauh lebih mudah daripada menghidupkan
manusia di Dunia, karena sudah ketetapan dari Allah sendiri yang
menciptakan Alam Dunia dan seisinya melalui perhitungan-perhitungan
tertentu atau yang lebih dikenal dengan Hukum Alam (Q.S. 54.Al Qamar, ayat
49), sedang di Alam Akhirat tidaklah demikian. Ini berarti penciptaan
manusia di Bumi melalui proses rumit nan panjang (evolusi) sesuai aturan
Hukum Alam yang telah ditetapkan oleh-Nya, sedangkan proses menghidupkan
kembali di Akhirat adalah secara tiba-tiba.

3. Keterangan yang terkandung dalam Q.S.  3. Ali Imran, ayat 59 di atas
dapat dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan “kun faya kun” dalam penciptaan
Adam adalah seperti Isa yaitu melalui proses evolusi, jadi bukan secara
tiba-tiba terwujud, karena Isa diciptakan melalui proses dalam kandungan
(Q.S. 19. Maryam, ayat 22). Bedanya, Isa evolusinya terjadi di dalam perut
Maryam (proses reproduksi), sedangkan Adam proses evolusinya terjadi di
muka Bumi.

4. Bahkan adanya ‘seleksi alam’ yang dikemukakan Darwin dalam Teori
Evolusinya sedikit banyak disentuh oleh maksud dari ayat-ayat berikut ;
 
# Q.S. 76. Al Insaan, ayat 28 yang artinya :
# Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan tubuh/ fisik mereka, apabila
Kami menghendaki, Kami sungguh-sungguh mengganti (mereka) dengan
orang-orang yang serupa dengan mereka.
 
# Q.S. 6. Al An’aam, ayat 133 yang artinya :
# Jika Dia menghendaki niscaya Dia memusnahkan kamu dan menggantimu dengan
siapa yang dikehendaki-Nya setelah kamu (musnah), sebagaimana Dia telah
menjadikan kamu dari keturunan orang-orang lain.

Adapun proses kejadian manusia dari bentukan unsur-unsur yang terkandung
dalam tanah adalah sbb :

# Q.S. 11. Huud, ayat 61 yang artinya :
# Dia telah membentuk kamu dari Bumi (Ardhi)

Secara tegas ayat tersebut menyatakan bahwa manusia terbuat dari unsur
bahan-bahan yang ada di Bumi.

# Q.S. 30. Ar Ruum, ayat 20 yang artinya :
# Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan kamu dari
tanah gemuk/ soil (Thurab)

Pengertian Thurab di atas menunjuk pada bagian tanah gembur di Bumi yang
mana merupakan hasil proses pengikisan dari lapisan-lapisan batuan yang
keras.

# Q.S. 21. Al Anbiyaa’, ayat 30 yang artinya :
# Dan Kami ciptakan segala sesuatu yang hidup dari air (Maa’)

# Q.S. 24. An Nuur, ayat 45 yang artinya :
# Dan Dia telah menciptakan semua jenis hewan dari air (Maa’)

# Q.S. 25. Al Furqaan, ayat 54 yang artinya :
# Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air (Maa’)

# QS. 32. As. Sajdah, ayat 7 yang artinya :
# Yang membuat segala sesuatu ciptaan dengan sebaik-baiknya dan Yang
memulai penciptaan manusia dari lempung (Thin).

# Q.S. 6. Al An’aam, ayat 2 yang artinya :
# Dialah yang menciptakan kamu dari lempung (Thin)

# Q.S. 37. Ash Shaaffaat, ayat 11 yang artinya :
# Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari lempung (Thin) yang pekat
(Laazib)

# Q.S. 23.Al Mu’minuun, ayat 12 yang artinya :
# Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati
(Sulalat) lempung (Thin)

Pengertian Thin menunjuk pada lapisan tanah (Thurab) yang telah bercampur
dengan air (Maa’), hal ini diperkuat dengan adanya unsur kepekatan pada
Thin itu sendiri. Dari adanya Thin inilah maka dimulainya penciptaan
manusia. Lebih spesifik lagi Allah menyebutkan bahwa hanya beberapa
komponen unsur saja/ saripati (Sulalat) yang berperan penting dalam
penciptaan tersebut. Penyelidikan sains menyebutkan unsur-unsur tersebut
diantaranya adalah C, H, O, N, Fe, Ka, Si, Mn.

# Q.S. 55.Ar Rahmaan, ayat 14 yang artinya :
# Dia menciptakan manusia dari tanah kering (Shal-shal) seperti (anyaman)
tembikar (Fachchar)

# Q.S. 15.Al Hijr, ayat 26 yang artinya :
# Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari tanah kering
(Shal-shal) dari lumpur yang dicetak (Hamaa-in)

Shal-shal  atau protein merupakan senyawa hasil reaksi dari beberapa macam
unsur tersebut di atas, dan merupakan substansi dasar makhluk hidup.
Ayat-ayat di atas menegaskan adanya gagasan pencetakan dalam penciptaan
manusia. Bagaimana unsur-unsur tanah tersebut bisa merancang sedemikian
rupa sehingga membentuk rupa manusia sesuai dengan kehendak-Nya ? Penemuan
sains akan DNA dan Kromosom telah memungkinkan terbukanya misteri tersebut.
DNA adalah suatu makromolekul protein yang sangat kompleks dan merupakan
materi kimia dasar atau sarana bagi terjadinya transfer informasi biologis.
DNA mempunyai struktur spiral dalam bentuk heliks ganda, satu pita
dibelitkan ke sekeliling pita lain (mungkin ini yang dimaksud Q.S. 55.Ar
Rahmaan, ayat 14 di atas).

# Q.S. 4.An Nisaa’, ayat 1 yang artinya :
# (Tuhanmu sajalah) yang telah menciptakan kamu dari sesuatu yang tunggal,
dan darinya Allah menciptakan istrinya, dan dari pada keduanya Allah
memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.

Sesuai dengan Teori Evolusi, dimana bentuk kehidupan pertamakali adalah
Makhluk Bersel Satu. Makhluk ini terjadi akibat proses substitusi dari
protein (Shal-shal) yang mendapat gempuran sinar kosmis dari langit.
Seperti diketahui Bumi pada saat mula terbentuknya dahulu kaya akan sinar
kosmis akibat masih labilnya lapisan Atmosfir. Makhluk Bersel Satu ini
berkembang biak dengan cara membelah diri. Karena itu pada ayat tersebut
disebutkan untuk jenis wanita juga diciptakan berasal dari bagian yang
membelah diri dari Makhluk tersebut. Setelah mengalami evolusi menjadi
makhluk yang lebih kompleks, baru kemudian perkembangbiakkannya dengan cara
perkawinan antara jenis laki-laki dan perempuan.

Demikianlah proses kejadian makhluk hidup (manusia) menurut versi penulis
berdasarkan tafsiran dari ayat-ayat Quran dan data-data sains modern.
Penulis terbuka atas kritik dengan dilandasi semangat ijtihad mencari
kebenaran. 

Al-Qur'an diturunkan oleh Allah SWT sebagai rahmat bagi semesta alam. 
Sebagaimana Rasulullah yang kepadanya diturunkan Al-Qur'an adalah rahmat
 bagi semesta alam. Allah SWT berfirman: "Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." (QS Al-Anbiya': 107)
 
Al-Qur'an
 ini menjadi rahmat, umumnya bagi semesta alam dan khususnya bagi 
manusia. Dalam berbagai ayatnya, Al-Qur'an banyak memperbincangkan 
tentang manusia dan rahasia kehidupannya dalam segala aspek yang 
berkaitan dengannya. Misalnya tentang penciptaan manusia, kejiwaan 
manusia, tujuan hidup manusia, dan lain sebagainya.

Sebagai 
keutamaan dari kitab suci Al-Qur'an, kebenaran dari setiap kata dan 
kalimat yang terdapat di dalamnya, dapat dibuktikan secara ilmiah. Para 
ilmuwan telah banyak menemukan bukti-bukti ilmiah ini, sehingga dugaan 
orang-orang yang menuduh Al-Qur'an dengan tidak benar dapat dibantah.

Yang
 akan kami bicarakan berikut ini menyangkut salah satu aspek yang 
berkaitan dengan manusia, yaitu masalah penciptaan manusia.

Al-Qur'an telah menegaskan bahwa manusia diciptakan secara khusus. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya
 Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah 
Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)-Ku, maka
 hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya." (QS Shaad: 71-72)

Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman: "Dan Allah menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari air mani..." (QS Faathir: 11) 

Kemudian,
 dalam ayat Al-Qur'an, kita mendapatkan bahwa Allah SWT menegaskan 
penciptaan manusia ini dengan menggunakan kata ‘Qad’ yang sebelumnya 
didahului dengan ‘lam’ yang memiliki fungsi penegasan (lâm ta’kîd). 
Allah SWT berfirman: "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya." (QS Qaaf: 16)

Demikianlah,
 Al-Qur'an menegaskan kekhususan penciptaan manusia. Namun orang-orang 
sesat yang tidak mau mengakui kebenaran Al-Qur'an menuduh Al-Qur'an 
bohong, karena menurut mereka, manusia tercipta sebagai hasil dari 
evolusi makhluk lainnya. Makhluk yang mendahului wujud asli manusia ini,
 mereka sebut sebagai ‘bapak’ bagi setiap binatang menyusui. 

Akan
 tetapi kebohongan mereka, akhirnya terbongkar juga. Pada 1986, ketika 
para ahli arkeologi menemukan sebuah fosil kera di Afrika, mereka 
menyimpulkan secara tegas tanpa ada keraguan, bahwa antara kera dan 
manusia tidak ada hubungan sama sekali dalam asal penciptaannya. 
Lihatlah bagaimana kebenaran senantiasa unggul di atas kebatilan?

Al-Quran
 sendiri, ketika menceritakan tentang penciptaan manusia, petunjuk yang 
terkandung didalamnya mengandung kebenaran yang dapat dibuktikan secara 
ilmiah.

Kita perhatikan apa yang dikatakan al-Quran tentang penciptaan manusia ini. Allah SWT berfirman: "Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air." (QS Al-Furqan: 54)

"Dan Allah menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari air mani." (QS Faathir: 11)

"Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu pada kali yang lainnya." (QS Thaaha: 55)

"Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina?" (QS Al-Mursalat: 20)

"Maka
 hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia 
diciptakan dari air yang terpancar. Yang keluar dari antara tulang sulbi
 dan tulang dada. Sesungguhnya Allah benar-benar kuasa untuk 
mengembalikannya (hidup sesudah mati)." (QS Ath-Thaariq: 5-8)

Dan
 banyak ayat lainnya yang seluruhnya menunjukkan bukti ilmiah yang 
terdapat dalam Al-Qur'an. Misalnya, dalam firman-Nya "Dan Dia (pula) 
yang menciptakan manusia dari air", Allah SWT menegaskan bahwa asal 
penciptaan manusia adalah air. Ayat ini sesuai dengan bukti ilmiah yang 
mengatakan bahwa kira-kira 75 persen dari berat manusia adalah air. 

Karenanya
 air sebagai asal segala sesuatu yang diciptakan, merupakan unsur 
terpenting bagi setiap proses kehidupan. Dalam tubuh manusia, air 
berfungsi untuk melunakkah bahan makanan yang masuk ke dalam tubuhnya 
hingga mudah untuk dicerna.

Mengamati pembahasan Al-Qur'an 
tentang penciptaan manusia, kita mendapatkan sebagian orang yang 
senantiasa meragukan kebenaran Al-Qur'an, menentang apa yang telah 
disampaikan Al-Qur'an tentang penciptaan manusia ini. Yaitu ketika 
mereka mengatakan bahwa Al-Qur'an tidak konsisten dalam menyebutkan asal
 penciptaan manusia. Menurut mereka, dalam salah satu ayat dikatakan: 
"Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu". Sedangkan dalam ayat 
lain disebutkan: "Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air". 

Dan
 dalam ayat lain dinyatakan: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia 
dari tanah”. Dan dalam ayat lain: “Dan Allah menciptakan kamu dari 
tanah, kemudian dari air mani”. Bagaimana penafsiran atas beberapa ayat 
yang saling bertentangan ini?

Demikianlah mereka meragukan 
kebenaran Al-Qur'an. Sebelum kami mematahkan argumen mereka, perlu kami 
ingatkan hal penting berikut ini: Siapa pun yang ingin mendapatkan 
hakikat kebenaran yang menyangkut suatu hal tertentu, maka pertama kali 
ia harus melepaskan diri dari penilaian subyektifnya. Karena bagaimana 
ia akan berdialog secara jujur dan obyektif dengan orang lain tentang 
sesuatu hal yang ia sukai? Jika ia tidak mau melepaskan 
subyektifitasnya? Tentunya ia akan cenderung membenarkan apa yang 
disukainya. Kemudian bagaimana ia akan berdialog secara jujur dan 
obyektif tentang suatu hal yang ia benci? Jika ia tidak mau melepaskan 
subyektifitasnya? Tentunya ia akan cenderung untuk menyalahkan apa yang 
dibencinya.

Dan pada realitanya, memerhatikan orang-orang yang 
memusuhi Islam dan menentang isi Al-Qur'an, kita hanya mendapatkan 
sedikit dari mereka yang mau melepaskan subyektifitas mereka. 
Sebaliknya, kita menemukan hati mereka telah dikuasai oleh kedengkian 
dan kebencian kepada Islam. 

Kedengkian yang menutupi mata hati 
mereka, sehingga mereka tidak akan dapat menemukan kebenaran sejati yang
 mereka idam-idamkan. Namun meski demikian, kami telah siap untuk 
mendiskusikan hal ini dengan mereka secara ilmiah dan obyektif.

Memerhatikan
 Al-Qur'an melalui ayat-ayatnya yang membicarakan tentang penciptaan 
manusia, kita akan mendapatkan bahwa ia senantiasa menggunakan kata 
‘min’ yang memiliki arti ‘dari sebagian’ (juz-iyyah). Ketika Allah SWT 
berfirman: "Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air", maka 
kalimat ‘dari air’ berarti sebagian unsur-unsur yang membentuk manusia, 
diambil dari air. Mengenai berapa persen kadar air dalam penciptaan 
manusia, maka hakikatnya, hanya Allah SWT yang mengetahuinya. Karena 
‘penciptaan’ (al-khalqu) merupakan sifat yang hanya dimiliki oleh Allah 
SWT.

Untuk mempermudah penjelasannya, kami berikan contoh 
berikut: misalkan seseorang memliki bahan mentah A, lalu ia mengolahnya 
menjadi bahan B, kemudian diubah sehingga menjadi bahan C dan terakhir 
menjadi benda D. Tentang penciptaan benda D yang telah mencapai bentuk 
jadinya, setelah mengalami beberapa proses perubahan, kita bisa saja 
mengatakan bahwa D berasal dari bahan A, atau bahan B atau dari bahan C.

Bagi Allah-lah sifat yang Maha Tinggi. Dia berfirman: "Tiada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS Asy-Syuura: 11)
  
Sebagaimana
 kalau kita perhatikan ayat lainnya, yang mengatakan bahwa manusia 
diciptakan dari tanah (thîn)—"Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia 
dari tanah"—kita mendapatkan hal yang sama, yaitu penggunaan huruf ‘min’
 yang menunjukkan arti kata ‘sebagian’. 

Dan seperti yang telah 
kami jelaskan sebelumnya, jenis tanah ini atau thîn adalah merupakan 
perpaduan antara air dan debu (turâb). Mengenai cara pencampurannya dan 
hakikatnya, serta kadar masing-masing unsur pembentuk manusia, maka hal 
itu tidak ada yang mengetahuinya, kecuali Allah SWT.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar